Empat ekor burung dilatih
oleh sang tuan. Acap kali dipanggil, mereka akan segera mendatangi
"pelatih"nya itu meski berlokasi amat jauh. Burung-burung itu amat jinak
dan menuruti setiap panggilannya.
Namun suatu hari, sang tuan
menebas burung itu satu persatu. Tak hanya dibunuh, burung-burung
cantik itu juga dicincang hingga tubuh mereka terpotong-potong menjadi banyak bagian. Si pemilik burung itu pun mencampur adukan potongan-potongan tubuh hewan peliharaannya.
Ia lalu menaiki bukit kemudian menaruh seperempat bagian cacahan
daging. Kemudian menuju bukit lain dan melakukan hal sama. Demikian
seterusnya hingga empat bukit.
Pria itu pun kemudian turun dari
bukit dan berjalan menjauh. Seakan tak pernah mencincang hewan yang
sudah dipelihara dan dilatih tersebut, ia pun kemudian memanggil mereka
dengan seruan dan tepukan. Tak lama hewan-hewan yang sudah mati itu
mendatanginya dengan kondisi utuh dan hidup. Menakjubkan! Padahal empat
burung itu telah dibunuh bahkan dicacah. Potongan tubuh mereka pun
bahkan dipisah-pisah jauh. Namun keempatnya hidup kembali.
Pemilik empat burung itu bukan lain sang nabiyullah yang hanif, Nabi
Ibrahim 'alaihis salam. Apa yang dikerjakan beliau pun bukan tanpa arti.
Bermula ketika bapak agama samawi tersebut melihat bangkai hewan hingga
tinggal tulang belulang. Ibrahim yang tengah mencari ketauhidan pun
bertanya-tanya, bagaimana Allah menghidupkan kembali bangkai dan jazad
yang telah mati.
*****